Sunday, May 6, 2012

Eksistensi Kebiasaan Masyarakat Adat Koteka

Umagi News     11:18 PM   No comments


Masyarakat adat Pengunungan Tengah PapuaSOLO (UMAGI)-- Sejarah masuknya masyarakat lain di wilayah masyarakat adat koteka seperti Para Missionaris Kristen (Katholik/Protestan), Pemerintaha Belanda, Inggris, Jepang, dan Indonesia telah menciptakan proses akulturasi yang melahirkan inovasi dalam kebudayaan masyarakat adat koteka, namun pada prakteknya proses itu belum mampu menghilangkan eksisitensi masyarakat koteka sebagai masyarakat adat di wilayahnya. Melalui peristiwa diatas telah membuktikan bahwa masyarakat adat koteka sangat menghargai eksistensi mereka sebagai masyarakat adat. Selain itu bukti pengakuan akan eksistensi mereka tercermin juga pada pola kehidupan, cara pandang, interaksi sosial, sikap, dan tindakan mereka sehari-hari.

Adat masih memegang peranan yang cukup penting dalam kehidupan mereka, hal tersebut tercermin pada pandangan mereka yang meyakini bahwa setiap orang yang telah melanggar peraturan adat akan dikenakan ganjaran/sanksi seperti cacat fisik atau mental, dan bahkan ajal. Selain itu pelanggaran yang diketahui mengorbankan orang lain atau barang maka pelakunya akan diganjar dengan hukuman membayar denda atas perbuatannya.

Kesimpulan yang diperoleh pada pembahasan eksistensi masyarakat adat koteka adalah, ungkapan narasumber yang menyebutkan bahwa hingga kapanpun eksistensi masyarakat adat koteka akan ada sepanjang kita dan anak cucu kita masih mendiami di muka bumi, tidak ada satu orang pun (individu dan atau badan hukum) yang memiliki hak, dan atau kewenangan untuk mehilangkan eksistensi masyarakat adat koteka. Lebih lanjut beliau menekankan bahwa “Keberadaan negara Indonesia dan aturan didalamnya sering menyebutkan bahwa seluruh masyarakat yang mendiami wilayah negara Indonesia adalah warga negara Indonesia, tidak dapat serta merta menghapus dan atau menghilangkan status mereka sebagai masyarakat adat koteka di wilayah pegunungan tengah Papua”.
Hak Kebudayaan atau Kebiasaan Masyarakat Adat Koteka
Pada prinsipnya segala sesuatu yang telah dan atau akan dilakukan oleh masyarakat adat koteka memiliki arti, maksud, dan tujuan tersendiri sebab masyarakat adat koteka memiliki pandangan hidup yang selalu mengarahkan mereka dalam melaksanakan semua kegiatan. Pandangan tersebut adalah “inil kalok (melihat), inaruk kolal biluk (mendengar), inobagege kalok (merasa)”, melalui pandangan inilah masyarakat adat koteka melangkah selama mengisi hidup dimana saja mereka berada. Pandangan tersebut dapat dipandang sebagai pedoman hidup mereka sebagai masyarakat adat dalam komunitas tertentu.

Terkait kepercayaan tersebut, terdapat beberapa mekanisme yang harus dilalui agar mimpi yang dijumpai terwujud, menurut keterangan narasumber mimpi yang diperoleh tentang suatu hal harus dijumpai selama 7 (tujuh) kali berturut-turut dalam waktu yang berbeda-beda, setelah melalui tahapan itu maka mimpi yang dijumpai akan terwujud sehingga orang yang mendapatkan petunjuk tersebut alangkah baiknya segerah melakukannya, sebab hasil yang diperolehnya akan baik dan berlimpa ruah.

Masyarakat adat koteka memiliki jiwa sosial yang tinggi, rasa sosial itu telah bermuara pada segala aktifitas yang biasannya dilakukan oleh mereka, sehingga setiap keputusan yang diambil dalam kegiatan apapun memuat unsur sosiologis. Dalam kehidupan sosial masyarakat adat koteka terdapat kelas-kelas sosial masyarakat, namun kelas-kelas itu berbeda dengan kelas sosial dalam masyarakat feodal, kelas dimaksud adalah dapat membiayai semua keluarganya dan bahkan orang lain disekitarnya, sedangkan pandangan lainnya hanya dapat membiayaai keluarganya saja. Kelas-kelas itu tercipta bukan karena warisan atau ahli dalam peperangan dan sebagainnya, melainkan tercipta karena kekayaan yang dimiliki. Kekayaan dimaksud bukan seperti emas, perak, dan lain-lain, ukuran kaya tersebut terlihat pada seseorang memiliki mege/engga/yeparip/manny/kulit bia (sekarang; uang), ternak yang banyak dan sehat, kebun yang banyak, memiliki istri lebih dari satu, dan lain-lainnya.

Masyarakat adat koteka menganut Sistem Patriarki sehingga hubungan kekerabatan yang terbangun disana mengikuti garis keturunan laki-laki. Walaupun sistem yang dianut demikian, namun dalam prakteknya posisi seorang perempuan sangat tinggi, terbukti dengan dihargainnya suara perempuan pada saat pengambilan keputusan dalam setiap aktifitas/persoalan, selain itu perempuan juga terkadang disimbolkan sebagai pembawa kedamaian dalam situasi genting, dan sebagai simbol kehidupan. Hal itu telah terjadi lama disana, sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat koteka dalam sejarah kehidupannya tidak mengenal diskriminasi terhadap wanita namun menghargai sebagai manusia yang sama.

Masyarakat adat koteka meyakini bahwa orang yang meninggal dengan cepat atau meninggal muda disebabkan karena telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan adat, selain itu mereka juga meyakini bahwa kematian dapat terjadi karena perbuatan orang tua/kakek yang bertentangan dengan aturan adat sehingga berdampak pada meninggalnya anak cucu.

Masyarakat adat koteka percaya bahwa pikiran jahat (iri hati) dari setiap manusia dapat membuat suatu hal yang sedang dilakukan menjadi tidak berhasil dengan baik atau bahkan musnah, contohnya jika seseorang menanam suatu tanaman yang tumbuh dengan subur, karena kesuburannya kemudian melahirkan perasaan iri dari orang lain disekitarnya terhadap tanaman itu, maka secara perlahan kesuburan tanaman akan menurun dan bahkan dapat berujung pada kematian tanaman. Selain pada tanaman perasaan jahat juga dapat menelan ternak yang dipelihara, dan bahkan dapat menelan nyawa manusia.

Masyarakat adat koteka percaya dan yakin bahwa disetiap tempat, benda, dan tumbuh-tumbuhan memiliki penghuni (roh-roh halus) sehingga eksistensinya dihargai demi terlindunginya keluarga, dan seluruh masyarakat adat koteka dari ancaman penghuni dimaksud. Dengan kepercayaan tersebut kerapkali ditemukan adanya ritual-ritual adat yang dilaksanakan untuk memberikan korban kepada roh-roh halus dimaksud, disamping itu secara umum mereka memberikan korban sebelum memulai sesuatu aktifitas yang baru dimulai (pertama kali dilakukan).

Menurut keyakinan mereka tempat-tempat tersebut dihuni oleh roh-roh pelindung setiap marga, arwah leluhur, roh penyubur tanaman dan hewan, dan lain sebagainnya. Dengan melihat itu sehingga eksistensinya dihargai, dan dilindungi oleh mereka, bentuk penghargaannya terlihat dimana wilayah tersebut dikelilingi oleh pagar yang dibuat atau hanya mengunakan patok alam agar tidak terjadi pengambilan hasil, dan adanya aktifitas disekitar tempat dimaksud, sebab jika terjadi hal diatas maka akan membahayakan masyarakat sekitar.

Masyarakat adat koteka mengenal perang antar suku, dan antar marga. Perang antar masyarakat adat/suku-suku sangat jarang terjadi karena mereka dengan masyarakat adat yang berada disekitarnya telah membangun suatu hubungan kekeluargaan yang mirip seperti saudara sekandung dimana, masyarakat adat koteka tidak diperbolehkan untuk mengawini anak perempuan dari masyarakat adat tentangga, tidak diperbolehkan makan dari sutu tempat yang sama, dan lain-lain. Disamping itu perang dimaksud jarang terjadi karena masing-masing masyarakat adat hidup, dan beraktifitas pada wilayah adat masing-masing (tidak saling ekspansi).

Aturan adat atau norma-norma yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat adat koteka sangat mirip dengan isi Sepuluh Perintah Allah yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Mussa di Gunung Sinai. Kemiripan tersebut terimplementasi pada saat penyebaran agama Kristen sehingga di wilayah adat koteka tidak mendapat halangan yang berat, sebab aturan adat disana sangat mirip dengan esensi firman Tuhan yang ingin diberitakan. Hal itu juga yang mungkin memotifasi “DR. J. V. De Bruin menyebut masyarakat adat koteka khususnya di suku mee, dengan sebutan Verdwenen Volk artinya suku yang hilang”. (Monggar)

,

Umagi News


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

0 SILAKAN BERKOMENTAR :

silakan komentar anda!

comments

Google+ Followers

Translate

Followers

NEWS

papuatvnews

Loading...

Free West Papua Videos

Loading...

Aktivis Pro Papua Merdeka

Loading...

Free West Papua Compaign

Loading...