Translate
English French German Spain Dutch Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese
Headlines News :

World News

Pemuda Papua Protes Pernyataan Menlu di Sidang HAM PBB

Written By umagi papua on Kamis, 31 Mei 2012 | 04:34



Pemuda Papua Protes Pernyataan Menlu di Sidang HAM PBB 
JAKARTA (UMAGI) –  Pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa di hadapan Sidang Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa mengundang protes dari sejumlah masyarakat Papua di Jakarta.

Nasional Papua Solidaritas (Napas) menanggapi pernyataan Marty dengan menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.
Juru bicara Napas, John Pakage, mengatakan kepada Jia Xiang Hometown, Selasa (29/5/12), Marty telah melakukan pembohongan publik dihadapan masyarakat Internasional. Saat sidang HAM PBB yang berlangsung di Jenewa Swis 23 Mei 2012, Marty membantah bahwa di Papua masih terjadi pelanggaran HAM. “Marty bahkan menyatakan bahwa penanganan HAM di Papua telah diselesaikan dengan transparan dan demokratis,” terang John sambil menggenggam poster tanda protesnya.

LAPORAN NASIONAL PAPUA SOLIDARITAS (NAPAS) KRONIK PAPUA Bulan Mei 2012


Ketika Impunitas terus Terjadi di Papua

Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengkaji pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia dalam pembahasan Universal Periodic Review. Dalam forum yang berlangsung sejak 23 Mei lalu di Jenewa, Swiss, ada sejumlah delegasi yang mempertanyakan mengenai pelanggaran HAM di Papua.

  "Untuk itu Pemerintah Indonesia agar segera merubah cara pandang dan model pendekatannya dalam mengatasi soal kebebasan berkumpul dan berpendapat termasuk di dalamnya soal kebebasan berekspresi di Indonesia, "ujar Direktur Eksekutif  Lembaga Penilitian Pengkajian Pengembangan dan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Papua Barat, Yan Christian Warinussy

Kata dia, Pemerintah Indonesia harus mampu menjamin bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi adalah sesuatu hak asasi yang sangat penting dan mestinya dilindungi, demikian juga dengan perbedaan pandangan politik warga negaranya yang tidak bisa serta merta dipandang sebagai sesuatu yang harus ditindak dengan menggunakan kekerasan dan aturan-aturan hukum yang bersifat represif seperti halnya pasal 106 dan 110 KUH Pidana Indonesia.


Berkenaan dengan itu, saya ingin menghimbau Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil keputusan penting dalam mengatur segera pembebasan terhadap para aktivis Papua yang dihukum dan dipenjarakan karena alasan berbeda pandangan politik dengan pemerintah, mereka adalah Filep Karma, Forkorus Yaboisembut, Selpius Bobii, Dominikus Sorabut, August Makbrawen Sananay Kraar dan Edison Kladius Waromi.

Sementara itu dalam  siaran pers dari Impartial tentang Papua  Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengkaji pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia dalam pembahasan Universal Periodic Review. Dari 13 negara itu, setidaknya lima negara yang menanyakan mengenai masih adanya serangkaian kekerasan di Papua. Apalagi, lima negara itu menilai pelaku pelanggaran HAM tak kunjung terungkap. Adapun lima negara itu adalah Jerman, Kanada, Inggris, Belanda, dan Perancis.

"Mereka)menunjukkan perhatian mereka dan menanyakan tentang Papua. Khususnya terkait masalah HAM, pembela HAM, kasus penyiksaan serta serangkaian kasus kekerasan yang masih kerap terjadi, tapi aktor dan pelakunya tidak pernah terungkap," kata Direktur Imparsial, Poengki Indarti.

Atas sejumlah kejadian pelanggaran HAM di Papua, kelima negara itu pun memberikan empat rekomendasi untuk Pemerintah Indonesia, yang dalam sesi itu diwakili Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Rekomendasi itu adalah, Mendesak Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan dialog dengan perwakilan Papua. Mendesak Pemerintah Indonesia untuk melanjutkan reformasi sektor keamanan baik TNI, Polisi dan Intelejen. Mendesak Pemerintah Indonesia untuk melindungi Para Pembela HAM dan Rakyat Papua dari tindak kekerasan. Mendesak Pemerintah Indonesia untuk melibatkan partisipasi rakyat dalam pembangunan di Papua. Kekerasan dan Diskriminasi

Dikatakan, kelima negara itu kemudian merinci sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. Pertama, di Papua diketahui sering terjadi penembakan terhadap warga sipil. Namun, polisi tidak pernah bisa menangkap para pelaku."Polisi selalu gagal memburu para pelaku, meskipun ada banyak satuan keamanan yang ditempatkan di Freeport dan Puncak Jaya, antara lain aparat kepolisian, TNI dan intelejen," ujarnya.

Kedua, Poengki mengatakan lima negara itu menyoroti meningkatnya kekerasan pada hari-hari tertentu di Papua. Misalnya pada hari jadi Organisasi Papua Merdeka tiap 1 Desember, juga pada acara-acara khusus seperti Kongres Rakyat Papua Ke-III pada bulan Oktober 2011 dan acara West Papua National Committee seminar di bulan Agustus 2011.

Ketiga, lima negara itu juga mempertanyakan pembatasan kebebasan berekspresi di Papua. Misalnya, yang terjadi saat acara Kongres Rakyat Papua tahun lalu. aparat keamanan Indonesia membubarkan Kongres Rakyat Papua dan menangkap lebih dari 200 orang. Para pemimpin kongres ditahan dan proses pidana dengan dakwaan makar," jelas Poengki.

Keempat, saat ini masyarakat asli Papua kerap dicurigai dan banyak dianggap pemberontak. Ini menyebabkan banyak orang asli Papua yang masih distigma sebagai separatis."Hal ini juga digunakan oleh Pemerintah Indonesia dalam membuat kebijakan, misalnya ketika pemerintah membuat satu kebijakan tentang intelejen yang mengijinkan intelejen untuk menginterogasi, menyadap, dan mengecek arus keuangan seseorang yang diduga separatis,"ujarnya.

Ketimbang memenuhi janjinya untuk mengadakan dialog dengan rakyatPapua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah justru lebih memfokuskan perhatian kepada percepatan pembangunan di Papua dengan mendirikan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), yang lebih menitikberatkan pada isu pembangunan.

"Ironisnya, pembangunan yang dilaksanakan di Papua tidak berdasarkan partisipasi rakyat, contohnya proyek MIFEE yang menjadi proyek Pemerintah Pusat yang justru meminggirkan orang asli Papua".Menanggapi review dari 14 negara tersebut, Pemerintah Indonesia menyatakan untuk mengoptimalisasi penerapan UU Otonomi Khusus dan mempercepat pembangunan di Papua dan Papua Barat, maka Pemerintah telah membentuk sebuah unit bernama UP4B berdasarkan Perpres 65/2011 dan 66/2011. Unit ini telah memformulasikan beberapa program cepat untuk meningkatkan ketahanan pangan, pengurangan kemiskinan, pembangunan ekonomi kerakyatan, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar.

Terkait impunitas, Pemerintah menanggapi bahwa situasi saat ini tidak seperti yang terjadi di masa lalu, dimana anggota TNI dan POLRI yang terlibat kasus-kasus kekerasan menikmati impunitas. Saat ini para pelaku telah diproses di pengadilan.Meningkatnya pertanyaan tentang Papua di forum UPR, menunjukkan bahwa perhatian internasional semakin meningkat.

Kami berkesimpulan bahwa munculnya berbagai rekomendasi terkait Papua tersebut tak bisa dipungkiri akibat adanya fakta lemahnya pemenuhan dan perlindungan terhadap HAM di Papua, yang kemudian memicu keprihatinan dunia internasional. Semua rekomendasi yang diterima oleh Indonesia dari komunitas Internasional adalah sangat penting karena menyangkut kredibilitas Indonesia dalam perlindungan dan pemenuhan HAM. Adanya tindak lanjut yang segera guna menyelesaikan berbagai persoalan HAM ada menjadi suatu keharusan.

Jika dicermati lebih lanjut dalam proses UPR khususnya yang menyangkut Papua ini, Imparsial menilai bahwa,  Indonesia hanya memandang penyelesaian masalah di Papua akan selesai dilakukan dengan menggunakan pendekatan ekonomi. Padahal permasalahan di Papua sangat rumit dan tidak dapat disederhanakan dengan hanya menggunakan pendekatan ekonomi saja. Suara Rakyat Papua harus didengar. Rakyat Papua harus diajak berdialog. Selama Pemerintah hanya menggunakan pendekatan ekonomi (yang masih dibarengi dengan pendekatan keamanan), maka selama itu pula isu Papua akan selalu muncul di forum-forum internasional.

“Kedua, Kekhawatiran Indonesia yang berlebihan terhadap Papua dengan cara tetap memberikan stigma separatis kepada orang-orang Papua, mengirim aparat keamanan di Papua dan menutup Papua dari dunia internasional, justru akan semakin menarik perhatian internasional terhadap Papua. Ketiga, institusi TNI dan Kepolisian banyak mendapatkan sorotan karena begitu banyak kasus yang muncul disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum dan HAM di Papua,”ujarnya.

Sementara berbagai Negara terus mempertanyakan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan Kasus HAM di Papua Justru Pemerintah Indonesia terus membiarkan kasus HAM terjadi terus di Papua.

Penembakan terhadap warga asal Jerman Djetmar Pieper seperti hal nya, yang pernah terjadi pada Opinus Tabuni, tanggal 9 Agustus 2008 di Wamena, saat perayaan hari Masyarakat Pribumi Sedunia. Penembakan di Jayapura sepanjang 2009 - 2011, penembakan di Puncak Jaya, rentetan penembakan di areal konsesi Freeport dan penembakan terhadap Terjolih Weyah yang tertembak di samping Koramil Abepura pada 1 Mei 2012, sekitar pukul 18.00 WIT.

Dari semua penembakan di Papua sejauh ini aparat keamanan belum pernah mengungkap dan memproses pelakunya secara hukum. Justru sebaliknya, kesimpulan yang selalu diambil ialah kelompok sipil bersenjata, kalaupun ditemukan peluru yang ditemukan dalam tubuh korban selalu saling menyangkal dan melempar diantara dua institusi Kepolisian RI dan Militer.

Inpunitas terhadap aparat keamanan Republik Indonesia (Polisi dan Militer) adalah fakta yang tidak dapat disangkal dalam berbagai peristiwa kekeran di tanah Papua. Justru sebaliknya, warga sipil di tanah Papua senantiasa dikambing hitamkan oleh aparat keamanan sebagai pelaku kekerasan,"ujarnya.

Penembakan terhadap tuan Djetmar Pieper, bukan untuk bermaksud memberikan tekanan teror terhadap warga asing untuk mengunjungi Papua. Sebab, selama ini pemerintah Republik Indonesia tidak membuka akses bagi jurnalis asing, diplomat, anggota parlemen/senator serta pekerja hak asasi manusia untuk mereka mengunjugi tanah Papua.

Bagi rakyat bangsa Papua, tidak pernah melarang komunitas internasional untuk berkunjung ke tanah Papua dan justru mereka selalu menyambut dengan tangan terbuka.

Apakah ini sebagai balasan atas suara kritis wakil pemerintah Jerman atas situasi Hak Azasi Manusia di Papua dalam pelaksanaan sidang XIII Komisi HAM PBB di Jenewa pada 25 Mei 2012, dimana pada kesempatan tersebut pemerintah RI dievaluasi oleh negara-negara anggota Komisi HAM PBB atas kebijakan HAM selama selama 4 tahun silam 2008-2012.

Selain peristiwa penembakan juga 29 Mei 2012 Penyerangan dan Pembakaran rumah Rakyat di desa Wanampompi, Kecamatan Angkaisera, Distrik kepulauan.Yapen, Papua. Warga kampung disekitarnya hingga saat ini mengungsi ke tempat aman, hutan dan sekitarnya untuk mengantisipasi kondisi berkelanjutan karena TNI dan POLRI terus mengejar John Nuntian.

Nasional Papua Solidaritas (NAPAS)  mengungkapkan keprihatin yang  mendalam atas tindakan yang tidak berperi kemanusiaan yang telah menimpa Djetmar Pieper, NAPAS juga mengutuk tindakan penembakan terhadap  Djetmar Pieper dan semua kekerasan yang terjadi di tanah Papua sejak integrasi Papua pada 1 Mei 1963 hingga saat ini.


Untuk melihat kembali, sebelum penembakan warga Negara Jerman dan beberapa Orang Papua Pemerintah Indonesia telah dipermalukan di Sidang HAM PBB di Jenewa, untuk membela diri Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan bahwa penanganan HAM di Papua telah dilakukan secara terbuka dan demokratis. Tidak ada pelanggaran HAM di Papua. Menyikapi tanggapan Menlu Indonesia pada Sidang HAM PBB tersebut Nasional Papua Solidaritas (NAPAS) di Jakarta mengatakan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa Telah melakukan Pembohongan Publik.

Pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa di hadapan Sidang Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa mengundang protes dari sejumlah masyarakat Papua di Jakarta.


Nasional Papua Solidaritas (Napas) menanggapi pernyataan Marty dengan menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.
Juru bicara Napas, John Pakage, mengatakan kepada Jia Xiang Hometown, Selasa (29/5/12), Marty telah melakukan pembohongan publik dihadapan masyarakat Internasional. Saat sidang HAM PBB yang berlangsung di Jenewa Swis 23 Mei 2012, Marty membantah bahwa di Papua masih terjadi pelanggaran HAM. “Marty bahkan menyatakan bahwa penanganan HAM di Papua telah diselesaikan dengan transparan dan demokratis,” terang John sambil menggenggam poster tanda protesnya.


John menambahkan, pernyataan menlu tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi. Sebab pada (1/5/12) telah terjadi penembakan oleh aparat keamanan terhadap mahasiswa STIE Port Numbay, Jayapura, Terjoli Weya setelah melakukan aksi damai memperingati Hari Aneksasi RI. Sementara pada (15/5/12) penembakan terjadi dilokasi penambangan emas ilegal di Dageuwo, Paniai. Insiden tersebut menewaskan Melianus Kepege dan melukai 4 warga sipil lainnya.


Sedangkan Penanggung Jawab Aksi, Marthen Goo menyatakan, bila pelanggaran HAM terus terjadi di tanah Papua, maka etnis Papua dikhawatirkan akan punah dari muka bumi. “Hingga saat ini tak kurang dari 800 rakyat Papua telah tewas karena konflik dan karena kekerasan aparat TNI dan Polri,” papar Marthen dengan nada kecewa. Oleh sebab itu Marthen juga sangat menyayangkan pernyataan Marty Natalegawa di hadapan forum PBB.


Lebih lanjut Marthen mengatakan, dua kasus penembakan warga papua itu telah menyita perhatian dunia internasional dan pada sidang HAM PBB tersebut, 74 negara dengan serius mempertanyakannya kepada Pemerintah Indonesia. Bahkan 12 negara secara khusus mengangkat permasalah real Papua di forum tersebut. Oleh sebab itu, aksi didepan Kedubes Jerman itu juga dimaksudkan sebagai penghargaan bagi 12 negara yang perduli terhadap nasib rakyat Papua, diantaranya masyarakat Jerman.


Rencananya 13 anggota NAPAS secara simbolis akan menyerahkan karangan bunga kepada pihak Kedubes Jerman guna mewakili 12 negara itu. Namun karangan bunga urung dilakukan. “Saat ini kami tidak jadi kasih bunga karena akan dialihkan pada acara pertemuan dengan pejabat Kedubes Jerman beberapa hari mendatang,” ucap John.

Sementara itu, salah satu Staf Kedubes Jerman, Lantip  menyatakan, mereka menghargai apresiasi dari sebagian rakyat Papua ini. “Kami tadi sudah mempersilakan mereka menyampaikan pesannya. Tapi untuk bertemu pejabat Kedubes tidak bisa dilakukan karena mereka sedang tidak ada di tempat,” ujar Lantip kepada Jia Xiang Hometown.


Ketidak seriusan Pemerintah Indonesia untuk mengungkap pelaku sejumlah penembakan warga sipil di Papua juga menjadi perhatian sejumlah Lembaga Kemanusiaan baik didalam Negeri maupun di luar.

Koordinator Kontras (komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan) Papua, Olga Helena Hamadi, menyesalkan penembakan sejumlah warga sipil di lokasi pendulangan emas Kabupaten Paniai, Papua pada Selasa (15/5) malam.

"Kami sangat menyesalkan penembakan itu terjadi," kata Hamadi di Jayapura, Papua, Rabu.

Ia mengemukakan, pihaknya menolak kekerasan seperti penembakan yang dilakukan oleh kepolisian atau Brimob setempat terhadap warga sipil, karena penembakan tersebut bisa meniadakan rasa keadilan dan perdamaian di Paniai.

"Kami menolak kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian. Penembakan terhadap warga sipil meniadakan rasa keadilan dan perdamaian di Paniai," katanya.

Lebih lanjut perempuan muda ini mengemukakan kasus penembakan di Paniai harus diusut hingga tuntas dan jika terbukti pelakunya harus mendapatkan hukuman yang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, karena jika tidak kasus penembakan tersebut bisa membuka pintu baru bagi kekerasan yang berikutnya.

"Seharusnya perlu upaya segera memeriksa pelaku penembakan. Usut tuntas dan beri sanksi yang seberat-beratnya karena penembakan ini membuka pintu bagi terjadinya kekerasan berikut," katanya.

"Kalau bisa aparat yang terlibat penembakan ditarik dari Paniai," katanya.

Sementara itu, Ketua lembaga pengembangan masyarakat adat suku Wolani, Mee dan Moni (LPMA Swamemo) Thobias Bogobau di Jayapura mengatakan hal itu tidak perlu terjadi jika aparat bertindak lebih bijak.

"Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, aparat hadir untuk melindungi dan mengayomi warga tetapi yang terjadi seperti ini," katanya dengan nada sesal.

Ia pun meminta agar peristiwa penembakan itu tidak terjadi lagi, dan meminta DPR Papua untuk segera membentuk tim khusus terkait itu.

"Jangan ada lagi penembakan, DPR Papu harus turun lihat permasalahan ini," pintanya.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, sebanyak lima orang warga ditembak personel Brigade Mobil (Brimob), dan seorang tewas, di pendulangan emas di lokasi 45 Desa Nomowodide, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Papua, pada Selasa sekitar pukul 20.00 WIT.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Paniai, AKBP Anthon Diantje, yang dihubungi Antara dari Jayapura, Rabu, membenarkan kasus yang bermula dari keributan yang dilakukan korban, sehingga menewaskan Malianus Kagepe.

Empat warga yang terluka, menurut dia, Lukas Kagepe tertembak bagian perut, Amos Kagepe luka tembak bagian kaki, Alpius Kagepe luka tembak di lengan kanan, dan satu korban lainnya belum diketahui identitasnya terkena tembakan di dada.

Selain terhadap warga sipil orang Papua, di Papua juga sangat rawan bagi orang Asing karena selain pelarangan Negara untuk warga Asing bepergian ke Papua juga sering tertembak. Namun lagi-lagi aparatus Negara tak mampu mengungkap setiap kasus yang tejadi di Papua. Kapolda Papua Irjen Pol BL Tobing,  melihat langsung kondisi Dietmar Pieper (55h) WN Spanyol (bukan Jerman) korban penembakan orang tak dikenal (OTK) saat berada di kawasan pantai Base G, di UGD RSUD Dok II Jayapura, Papua.

Korban yang masih nampak sadar itu didampingi istrinya Eva Medina itu berada di pantai Base G untuk menikmati keindahan pantai tersebut, namun tiba-tiba ada seseorang yang turun dari mobil dan langsung menembak ke arah korban.

"Ada tiga kali bunyi tembakan,"korban kepada anggota Polresta Jayapura di UGD RSUD DOk II Jayapura.


Pihak Kepolisian di Papua telah mengakui bahwa telah terjadi penembakan warga Sipil di Papua namun tak diungkap bahkan pelakunya terus dipromosi jabatannya untuk naik pangkat.

Pihak Kepilisian Indonesia  di Papua juga telah melihat langsung korban warga Sipil namun tak pernah mengungkap siapa dibalik dan apa motifnya.

Warga negara Jerman Dietmer Pieper (55), korban penembakan di pantai Base G Jayapura, Selasa (29/5)  dievakuasi ke Singapura untuk mendapat perawatan lebih intensif.

Kepala Dinas Kesehatan Papua drg Joseph Rinta mengemukakan di Jayapura,  korban segera dievakuasi ke Singapura, namun kapan waktu persisnya belum dipastikan karena masih menunggu informasi dari Kedubes Jerman di Jakarta dan pihak asuransi.

"Sejak  (Rabu, 30/5) sudah ada pembicaraan antara tim dokter, pihak asuransi dan Kedubes Jerman tentang rencana evakuasi korban," kata Rinta.

Dikatakannya, sambil menunggu evakuasi dilakukan pihaknya terus memantau kondisi korban yang hingga kini masih dirawat diruang ICU RSUD Jayapura.

Kondisi korban secara menyeluruh dalam keadaan stabil, namun Dietmer masih seringkali mengeluh kesakitan sehingga tim dokter memberinya obat penenang, ujarnya.

Menurut Rinta, korban akan dievakuasi ke Singapura dengan menggunakan pesawat khsusus yang juga berfungsi sebagai rumah sakit sehingga saat ini pihaknya terus mempersiapkan kondisi korban untuk melakukan perjalanan jauh.

Korban ditembak orang tidak dikenal saat bersama istrinya Eva Medina yang berkebangsaan Spanyol berada di pantai Base G Kodya Jayapura (OTK) pada Selasa (29/5).

Dietmar Pieper (55 th) berkebangsaan Jerman memegang paspor ber no C1WVZVXNL yang berlaku hingga 12 Januari 2019, sedangkan istri korban Eva Medina yang berkebangsaan Spanyol dengan paspor no P ESP X 463056 berlaku hingga 28 Januari 2014.

Sebelumnya juga ada penembakan warga sipil atas nama Theorelli Karoba (26) mahasiswa Port Numbay, Jayapura, ditembak aparat setelah menggelar aksi untuk memperingati terjadinya aneksasi Papua Barat 1 Mei 1963,. Dalam kasus penembakan di Papua, kepolisian dianggap tak pernah mengumumkan siapa pelaku sebenarnya.

Nasional Papua Solidaritas (NAPAS) mengucapkan belasungkawa atas tertembaknya warga Sipil berkewargaan Jerman di Tanah Papua. Napas juga mengatakan bahwa Tanah Papua sudah terus di upayakan menjadi Tanah Damai sehingga aparat Kepolisian segera mengungkap pelaku
penembakan.

" Kami Bangsa Papua menyampaikan turut Duka Cita atas tertembaknya warga Jerman, Sejak lama Jaringan Damai Papua serta Orang Papua terus berupaya untuk mengkampanyekan Papua Tanah Damai sehingga Aparat Kepolisian harus bisa mengungkap siapa Pelakunya" tegas Marthen Goo dari Napas.

NAPAS juga terus mendorong penyelesaian kasus Pelanggaran HAM di Papua seperti kasus Wasior dan Wamena.

Jakarta 31 Mei 2012
Nasional Papua Solidaritas

PEMBAKARAN RUMAH WARGA SIPIL, PENANGKAPAN AKTIVIS PAPUA MERDEKA DI SERUI

SERUI (UMAGI)-- Aparat Militer (Tni/Polisi) di Yapen kembali melakukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia  (HAM),  tepatnya terjadi tanggal (29/05/ 2012) Pukul 12.00-05.00 Wpb. Dalam Operasinya (Tni/Polisi) di kampung Wanampompi Kecamatan Angkaisera.

Pihak Penegak Hukum dan pelindung rakyat ini melakukan tindakan pembakaran rumah warga sipil dan menyita dua buah bendera “Bintang Kejora”, dua Parang, satu Senjata angin milik warga. 

Selain, mengambil barang barang tersebut, Pihak (Tni/Polisi)  juga menangkap satu orang warga masyarakat yang menurut (Tni/Polisi) dengan dugaan anggota (Tpn/Opm) di wilayah serui bernama Tn. John Nuntian.

Setelah menangkap Tn.Jhon Nuntin dan Barang barang tersebut Pihak (Tni/Polisi) membawanya ke Mabes Polresta Kab.Kep. Yapen bersama warga yang ditahan.

Namun hingga saat ini keluarga belum mengetahui keberadaan John Nuntin.Apakah telah di bunuh atau di tahan di  tahanan Polres atau TNI Yapen. 

Melihat kondisi itu, Warga kampung Wanampompi dan kampong-kampung yang ada disekitarnya hingga saat ini mengungsi ke tempat aman di hutan-hutan, untuk dan mengantisipasi kondisi selanjutnya.

Dalam kasus ini juga, terindikasi perang terbuka bakal terjadi diantara kedua belah pihak (Tni/Polisi) dan (Tpn//Opm). Kemudian pihak Pimpinan Opm  Kab. Kep. Yapen, EM, ia telah menyerukan agar seluruh satuan tugasnya tetap tenang dan tidak melakukan tindakan kekerasan kepada aparat (Tni/Polisi), berhubung keselamatan warga masyarakat didaerah tersebut.

Masyarakat serui berharap bebaskan Jhon Nuntion, karena dia waraga sipil biasa.  keluarga besar Nuntian berharap kembalikan Jhon ke kami karena dia tidak salah. Kami minta semua pihak mohon advokasi (J.A) 

SUMBER: SMS, FACEBOOK

MEMPERINGATI HUT AMP: KITA MELANGKAH MENUJU KEMERDEKAAN PAPUA

Written By umagi papua on Rabu, 30 Mei 2012 | 11:17


YOGYAKARTA (UMAGI)-- Hari Ulang Tahun yang ke-XIV Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), memperingati pada Rabu, (30/05/2012), kegiatan di pusatkan  asrama Mahasiswa Papua "Kamasan I" Jalan Kusumanegara No. 119 Yogyakara. 

Hut Amp, diawali dengan doa pembukaan, selanjutnya dengan orasi-orasi politik dari setiap Perwakilan Pro Papua "M" serta pembacaan puisi.


Kegiatan Hut Amp  Jumlah peserta yang hadir terus bertambah dan dengan antusias mengikuti jalannya kegiatan, perkiraan mencapai 350-an orang yang aktif  dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan ini juga,  Komite Umum Pusat (AMP) dan komite Kota mengambil bagian dalam mengadakan  Seminar sehari, Ibadah Syukuran Bersama, dan Nonton. bertema “ Bersama Sejarah  Kita Melangka Menuju  Kemerdekaan” dan Sub Thema “ Dengan Semangat HUT AMP, Kita Tegaskan Perjuangan Rakyat dan Bangsa Papua".  

Adapun pemateri Seminar Sehari yang di undang oleh panitia penyelenggaraan Hut tersebut yakni,    Bapak Pdt Socratez Sofyan Yoman (Toko masyarakat Papua), Bapak Dr. George Aditjondro (Cengkiawan Indonesia), dan Rinto Kogoya sebagai (Ketua umum AMP)

Pak Yoman, Menyatakan Belanda Menjajah di Indonesia; Spanyol di Pilipina; Indonesia di Papua. maka itu, Orang Alsi Papua (OAP) saatnya membangun Kesadaran Guna Merebut hak -hak kami, selama ini diinjak-injak oleh rezim yang tak bertanggung jawab.

Tambah Lagi, Yoman Mengegaskan Bahwa "Orang Papua saatnya kita bersatu untuk melawan penjajah di Tanah Papua, jika kita tidak melawan maka, Tanah Papua dikuai oleh orang non Papua."tegasnya.

Pak Aditjondro, Menyatakan "Papua dalam Imajinasi Indonesia" mengapa orang Indonesia susah memahami aspirasi orang Papua Untuk merdeka? kembali pada orang Papua itu sendiri sadar atau tidak sadar. Orang Papua sering Merasa belum di terima sepenuhnya oleh orang Indonesia.

Rinto, Peran sejarah Mahasiswa Papua dalam Pemperjuangkam Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi rakyat Papua. dimana Gerakan Mahasiswa Papua Tahun 70-80, gerakan kebangkitan seni dan budayan Papua barat  Pelopor (Alnor Ap,  Sem Kapisan dan Kawan-kawan) mahasiswa Uncen Jayapura Pada saat itu. Hingga gerakan Mahasiswa Papua tahun 90-an dan tahirnya AMP.

kemudian pada pukul 06:00Wib, Ibadah perayaan Bersama, dengan renungan Singkat (Pdt. Ronny Simatupang),  terdapat dalam Alkitab (keluaran 18:13-27) intinya "Memimpin yang mau belajar". dalam kotbanya menyatakan" belajar untuk perubahan pribadi, Keluarga, Suku, Bangsa Papua, dan untuk mencapai Tujuan yaitu " Merdeka".

Selanjutnya, Pukul 08:00Wib, Makan, Makanan Bakar batu " masakan kas Papua Pengungunan" dilanjutkan dengan nonton bersama Filem terbaru berjudul "Strange Birds In Paradise" Tentang Papua secara Umum, filem tersebut  buat oleh diPlomat Australia untuk Papua Merdeka. akhirnya Hut Amp Akhiri pada malam hari sekitar 10:30Wib, dengan aman tanpa ganguan. (Andy U Ogobay)

Laporan Amnesty 2012, Soroti Kekerasan di Papua

Written By umagi papua on Minggu, 27 Mei 2012 | 13:27

PAPUA(UMAGI)- Amnesty Internasional merilis laporan tentang HAM dan kebebasan berekspresi di Indonesia 2012. Salah satu yang disorot adalah kekerasan aparat keamanan di Papua yang masih kerap terjadi.


“Pasukan keamanan di Indonesia terus menerus menghadapi tuduhan penyiksaan atau perlakuan buruk terhadap tahanan, terutama aktivis damai politik di daerah yang memiliki sejarah gerakan pro-kemerdekaan seperti Papua dan Maluku. Tapi, ironisnya tidak pernah ada  Investigasi independen terhadap tuduhan-tuduhan itu,”ujar Josef Roy Benedict juru kampanye Amnesty Internasional untuk Indonesia, melalui pesan elektroniknya kepada Bintang Papua, Kamis (24/5). 

Lanjutnya, khusus untuk Papua, kekerasan dan penyiksaan terhadap warga sipil masih terus berlangsung. “ Januari 2011, tiga anggota militer yang terekam dalam video menendangi dan secara verbal menganiaya warga Papua dijatuhi hukuman oleh pengadilan militer sebesar delapan hingga sepuluh bulan penjara, karena mengabaikan perintah.  Ironisnya, seorang pejabat senior pemerintah Indonesia menyebutnya hanya penganiayaan tersebut sebagai “pelanggaran kecil” ungkap dia.

LPMA SWAMEMO Dibentuk Untuk Selamatkan Manusia dan Alam Degeuwo

Written By umagi papua on Selasa, 15 Mei 2012 | 23:04

NABIRE (UMAGI)-- Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Wolani Mee dan Moni (LPMA SWAMEMO) telah dibentuk, dan akan bekerja untuk menyelamatkan manusia dan alam, serta hak-hak masyarakat adat di sepanjang sungai Degeuwo.

Hal ini dikatakan Ketua LPMA SWAMEMO, Thobias Bagubau saat melakukan jumpa pers di Café Prima Garden, Abepura, Jayapura, Papua, Selasa (15/5) siang tadi.
Thobias menjelaskan, pada tanggal 19 April lalu Aliansi Intelektual Suku Wolani, Mee, dan Moni (AISWMM), masyarakat adat bersamat tim terpadu telah melaksanakan suatu musyawarah besar di Wisma Green, Kotaraja dalam, dan hasilnya sepakat untuk membentuk LPMA SWAMEMO.

Militer Tembak : 4 Orang Korban Warga Sipil Di Degeuwo Paniai

PANIAI (UMAGI)--  Aksi Penembakan okmum Militer  (Tni-Polri), terhadap Masyarakat Sipil  terjadi lagi, di lokasi  penambangan liar Emas di Kali Degeuwo, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Papua. Wara sipil yang korban atas Nama: 1, Melianus Daba (30), 2. Yakop Kobepa (31), 3. Markus Kobepa (32), 4. Didinus Anoka (28), kejadian ini terjadi dini  Hari  selasa (15/05/2012) tepat pada pukul 08;016 waktu Degeuwo.

Kejadian ini, salah satu Pemuda Warga Degeiwo (Dance Y)  mengubungi kami melalui Handphone  (sms) bahwa tanpa alasan yang jelas Militer (Tni-Polri) Menembak mati empat warga sipil, tindakan brutal kaya binatang buruan terhadap warga sipil yang berada dilokasi penambangan liar Emas di Kali Degeuwo, maka empat orang jadi korban meninggal dunia.

Kata Dance juga bahwa kami disini tidak tahu akar persoalan Penembakan ini, " kami juga dikagetkan dengan bunyi tembakan (senjata), dari pihak Militer, sehingga beberapa jam kemudian, kami cek beberapa keluarga di sekitarnya, kami juga berhasil menemukan empat jenasah beda tempat di sekitar lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Keluarga  korban, berharap pihak militer bertanggung Jawab atas penembakan terhadap masyarakat  tak berdosa ini, "ungkapnya. 

Dance juga menambakan selama  Aktivitas penambangan liar di Kali Degeuwo, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai telah berlangsung sejak tahun 2003. Sampai saat ini 2012. Kami mengalami kerugian yang sangat mendalam yakni tempat tinggal kami jadi rusak, Kebun kami jadi tandus, keluarga Kami Jadi Korban (Makanan Senjata Militer). Dance juga mengharap semua pihak mohon advokasi. (Friket)

SUMBE: SMS






Implementasi Kebijakan SBY Melalui TNI dan Polri Wujudkan Genocide Terhadap Orang Asli Papua Barat di Paniai

MABES TPN-OPM Paniai di EDUDA dihujani PELURUH MILIK INDONESIA sejak 13 Desember 2011, pukul 08:00 WPB di Enarotali.Siapa yang bikin situasi Papua dan Papua Barat bikin tidak aman khususnya di Paniai sejak tahun 1980an?


Jawabnya singkat saja. Indonesia ini sangat pintar GALI LUBANG DAN TUTUP LUBANG untuk memusnahkan Orang Asli Papua Barat sejak dirancang dan ditandatanganinya New York Agreement 15 Agustus 1962, Roma Agreemnt di Roma 30 September 1962 dan Pelaksanaan PEPERA 1969. Situasi Orang Asli Papua di Paniai diarahkan secara paksa kepada TRAUMA oleh TNI/POLRI yang dikirmkan presiden SBY dari Jakarta.

AKIBAT TPN-OPM Paniai tidak mau penuhi permintaan presiden SBY melalui pimpinan TNI/POLRI, maka sarang TPN-OPM Dev II Makodam Pemka IV Paniai di Eduda mulai dihancurkan sejak hari ini 13 Desember 2011, pukul 08:00 WPB dengan menggunakan helikopter milik TNI. Kami sudah lama minta John Magay Yogi dan kelompoknya segera turun tinggal bersama masyarakat di Enarotali, tetapi karena dia tidak mau patuhi permintaan, maka kami perintahkan pasukan TNI hancurkan Mabes bersama orangnya termasuk pendukung Organisasi Papua Merdeka dari bumi Paniai, West Papua, kata Kapolres Paniai setelah ia ditanya.
Orang Asli Papua Barat di Paniai mempertahankan EDUDA sebagai Mabes TPN-OPM Paniai sejak tahun 1998 yang dijadikan Pusat Tuntutan Keadilan dan Perdamaian Dunia kepada PBB Mengakhiri Kekerasan Militer Indonesia mewujudkan Implementasi GENOCIDE di tanah Papua.
Pasukan gabungan TNI, POLRI, BRIMOB dan Densus 88 yang telah dikirimkan ke Paniai dari Jakarta telah mulai menggunakan helikopter memasuki Mabes TPN-OPM Dev II Makodam Pemka IV Paniai sejak jam 06:15 sampai 07:00 malam untuk tanggal 12 Desember 2011. Helikopter milik TNI tersebut hanya melakukan survey tentang lokasi pendropan militer di sekitar Mabes TPN-OPM Eduda. Mereka telah menentukan 14 titik yang akan diturunkan militer untuk mengurung kekuatan TPN-OPM di Eduda.

TNI Targetkan Masyarakat yang menghuni di sepanjang kaki gunung Wege kanan-kiri yang memanjang dari Grasberg menuju Tanjung Dagouto-Danau Paniai. Untuk memenuhi target operasi militernya, pasukan gabunagn TNI mulai diturunkan kurang lebih 14 titik terpenting, pintu masuk-keluar dari Eduda, lokasi Mabes TPN-OPM Paniai, West Papua.

Pada pagai hari ini 13 Desember 2011, 08:00 WPB, TNI menggunakan helikopter tersebut untuk droping pasukan gabungan TNI/POLRI ke lokasi KUGOKOTU di sekitar lokasi pemukiman masyarakat yang menghuni di kampung Muyadebe, Kegomakida, Bokowa, Uwamani, Kugitadi, Badauwo, Obaikebo, Woubutu, Yagiyo, Gekoo, Yagio, Toko, Bibida, Odiyai, Papato, Timida, Kopo, Uwibutu, Madi, Ipakiye, Nunubado, Awabutu, Kogekotu, Bobaigo, Iyaitaka, Toputo, Aikai dan Puteyato.

Selain itu, masyarakat yang penghuni disapanjang penggiran tanjung Dagouto arah kanan dari Danau Paniai juga ikut TRAUMA akibat peristiwa yang terjadi pagi ini dengan cara TNI menurunkan ribuan pasukannya ke wilayah tersebut untuk menumpas kekuatan TPN-OPM di Paniai di bawah pimpinan John Magay Yogi yang bermarkas di Eduda, Kabupaten Paniai, West Papua. Mereka inilah lanjutan perjuangan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Papua Barat 1 Juli 1971. Semangat proklamasi tersebut perjadi peristiwa pertumpahan darah yang dilakukan oleh pasukan gabungan TNI/POLRI terhadap ribuan nyawa Orang Asli Papua Barat tak berdosa di Paniai yang korban tertembak dengan alasan TNI memberlakukan Paniai jadi Daerah Operasi Militer dalam tahun 1980-an

Kampung-kampung lain yang ikut PANIK & TRAUMA untuk Orang Asli Papua Barat di Paniai antara lain yang dimulai dari kampung yang terletak di tanjung Dagouto, Kopabutu, Obaiyoweta, Odimaa, Touwomuti, Kubiyai, Jikawapa, Bubugiwo, Dei, Dukubutu, Tamugauwo, Deba, Kaidoutadi, Obaipugaida, Ekauwiya, Kagama, Waigei, Dokukiyaida, Eyagitaida, Okonobaida, Tegiye, Baguwo, Geitapa, Nakuwago, Pogeidimi, Iteuwo, Kopabaida, Kenepugi, Kenegei, Kagokadagi, Debamomaida, Tegougi, Iyobado, Muyabado, Wegou, Dinubut, Ayagogei, Momabaida, Waimaida, Pugaitapuda, Wopakagouto, Duwadide, Watimato, Kugaimapa, Etogei, Diyagepugi, Wauka, Wagibutu, Utoupagouda, Bamaida, Togogei, Ganiyakato, Kegowauto, Kotemomo, Dauwagu, Putapugi, Onagekaa, Ibouwagu, Epogoumuti, Katuwobaida, Akoubaida, Danetakaida, Detai, Yumauwo, Uwagi, Tagipige, Makadimi, Bogobaida, Namutadi, Nawipauwo, Bebiyagi, Tuka, Ipouwo, Abatadi, Kobebaida, Kobetakaida, Yagapa, Wetamuti, Kogada, Emaidimida, Emai, Tagiya, Debaiye, Tuguwai, Kagokotu, Widimeida, Bumabado, Ogeida, Bumaida, Pagimoutadi, Deta, Yonaibutu, Biyamoma, Komoubutu, Dogiyo, Pagimomakida, Ayaigo, Duwagikotu, Kagupagu, Togowa, Wodebapugi, Kebo, Manataidagi, Kobeyuwonotaida, Ukadeya, Giyaimani, Togowa, Iyeimoma, Pougo, Paiyogei, Kedege, Yagai, Detauwo, Deyatei, Kotopo-Obano, Muye, Mogoya, Dimiya, Epouto, Podida, Watai, Yawei, Keniyapa, Pugobado, Kagamade, Touyetadi, Waidide, Pagubutu, Kopai, Wooge, Duma Dama dan lain-lain.
Melalui pertimbangan sistem operasi militer Indonesia yang telah lama dilakukan oleh pasukan gabungan TNI/POLRI, kami menyatakan Orang Asli Papua Barat di Paniai akan dihabiskan dengan PEMBUNUHAN CARA CEPAT & KILAT selama kurun waktu tertentu sesuai target Jakarta melalui pendekatan Kelompok Bentukan Sipil Bersenjata oleh Jakarta sendiri
Negara Indonesia ini dinilai sebuah negara yang memusuhi kemanusiaan dan pelaksana Program TERORISME di tanah Papua sejak 1 Mei 1963. Sebagai buktinya, Kopasus telah membunuh Theys Hiyo Eluai Ketua PDP di Jayapura, panglima TPN-OPM Kodap III Agimuga-Fak Fak Jend Kelly Kwalik dan Jend John Magay Yogi dan kelompoknya mulai diburuh dengan menggunakan helikopter milik TNI/POLRI di Eduda sejak 13 Desember 2011, 08:00 WPB.
Pasukan gabungan TNI juga telah menewaskan almarhum Demianus Daniel Taniwo Kedepa (Daneil Kadepa) dan 5 orang anggota Penjaga Tanah Papua (PETAPA) di lapangan Zakeus tempat pelaksanaan Kongres Rakyat Papua 3 tertanggal 19 Oktober 2011. Almarhun Petrus Ajamiseba dan Leo Wandagau dari karyawan Freeport juga telah ditembak Polisi Indonesia tertanggal 10 Oktober 2011 di titik gorong-gorong terminal Bus karyawan Freeport, Kwamki Baru Timika, West Papua. Lanjutan kekerasan militer Indonesia ini, tuan Altinus Wamang dan 2 orang teman peserta pengibar Bendera Bintang Kejora di HUT Organisasi Papua Merdeka tertanggal 1 Desember 2011, pukul 11:16 WPB telah ditembak pasukan gabungan TNI, POLRI, BRIMOB, dan DENSUS 88 di lapangan sepak bola Timika Indah, Kabupaten Mimika. Bantuan militer asing dari Amerika Serikat dan Australia ini diberikan kepada TNI untuk menembak Orang Asli Papua Barat yang tak bersenjata, pada saat Orang Asli Papua Barat menyatakan dan menyampaikan pernyataan kemerdekaannya.
Pernyataan dari pihak Induk TPN-OPM dari Dev II Makodam Pemka IV Paniai yang tersebar di 8 batalyon selain yang ada bergabung di Batalyon I Eduda menyatakan dengan tegas via telepon selulernya, rombongan John Magay Yogi siap menerima serangan pasukan gabungan TNI/POLRI sepanjang mereka mampu melawan kekuatannya. Atau kelompok John Magay Yogi dan anggotanya menyatakan siap untuk ditembak atau ditangkap habis-habisan dari Eduda dalam pertempuran 2011 yang berlangsung ini, kami dari batalyon lainnya menyatakan siap selamatkan dokumen perjuangan politiknya demi mempertahankan gensi perjuangan leluhur kami Rakyat dan Bangsa Papua Barat dari generasi ke generasi sampai titik darah penghabisan. Kami tetap siap mempertahankan perjuangan dari generasi tertua di bawah pimpinan pasukan PAPENAL EKAMONALA Yulius Goo, Letkol Markus Gobay, Letkol. Yoni Kapobay Kadepa, Letkol Leo Kudiai, Jend. Thadius Magay Yogi dan lain-lain. Kami cinta perjuangan untuk mempertahankan Mabes TPN-OPM Paniai di EDUDA sebagai Pusat Tuntutan Keadilan dan Perdamainan Dunia untuk melawan kekerasan negara Republik Indonesia.
Kita mengerti saja, cara pendekatan demikian menurut pihak Jakarta memilih jalan terbaik selesaikan akar persoalan politik yang sudah lama bertumbuh di Papua Barat. Tetapi kami yang melihat dari dekat bahwa cara demikian malah memperlihatkan sistem dan cara pendekatan militerisme-terorisme Jakarta memusnahkan hak hidup Orang Asli Papua Barat tidak berdosa dengan alasan pemberlakukan Daerah Operasi Militer terhadap Kelompok Bentukan Sipil Bersenjata di Paniai. Sudah lama sekali TNI/POLRI dan TPN-OPM Paniai saling kejar sejak 15 Agustus 2011 tetapi hingga laporan ini diturunkan 12 Desember 2011 belum ada anggota satupun dari kedua belah pihak yang tertembak.
TNI/POLRI DINILAI KECEWA.
TNI/POLRI kecewa karena John Magay Yogi tidak menerima permintaan Jakarta yang disampaikan melalui Kapolres Paniai. Jakarta sudah lama melakukan pendekatan terhadap John Magay Yogi untuk menerima tawaran Jakarta agar kelompok TPN-OPM Paniai segera akan menyerahkan diri ke NKRI. Pada akhirnya, mulai hari ini 13 Desember 2011, 08:00 WPB pihak TNI/POLRI sudah mulai memasuki ke Mabes TPN-OPM Paniai di Eduda dengan menggunakan helikopter milik TNI. Mabes Eduda dikurung habis dengan jarak yang paling dekat. Bila TPN-OPM Paniai di bawah pimpinan John Magay Yogi tetap tidak mau menerima permintaan presiden SBY melalui Kaplres Paniai dalam negosiasi yang sedang dilakukan antara TPN-OPM dan TNI melalui anggota polisi lokal, maka sangatlah berbahaya bagi Orang Asli Papua Barat yang tergabung dalam TPN-OPM Paniai ini akan dihabiskan secara MASAL di EDUDA mulai dari hari ini dan seterusnya. Bila pihak TPN-OPM Paniai yang bermarkas di Eduda ini telah dikondisikan oleh Jakarta sejak 1 Juli 2009 untuk ditangkap atau dibunuh, maka usailah sudah masa perjuangan tuan John Magay Yogi dan anggotanya untuk nyawa mereka dihabiskan dari Eduda atau akan dihabiskan dari kota setelah mereka dibawa keluar dari Eduda. TPN-OPM bersama Rakyat Papua Barat di Paniai dan sekitarnya telah dan akan dikorbankan hanya atas pengkondisian Jakarta saja untuk merusak sistem perjuangan dari rakyat.
Pada pukul 02:20 WPB, pasukan gabungan TNI/POLRI dan BRIMOB sudah memasuki di Mabes TPN-OPM Dev II Makodam Pemka IV Paniai agar TPN segara akan meninggalkan pasukannya dari Eduda. Kami masih belum mendapatkan informasi tentang berapa orang yang korban dalam kontak senjata yang terjadi di Eduda tersebut. Kita akan mengikutinya perkembangan lebih lanjut tentang kekerasan pasukan gabungan TNI terhadap TPN di Paniai.

REKOMENDASI :
1. Orang Asli Papua Barat di Paniai meminta pemerintah Belanda, pemerintah Roma (UNI-EROPA) dan Amerika Serikat segera akan melakukan intervensi pasukan perdamaian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap kebijakan pemerintah Jakarta untuk membatasi “SYSTEM PEMBUNUHAN KILAT MEWUJUDKAN IMPLEMENTASI GENOCIDE di Papua dan Papua Barat.
2. Berdasarkan pertimbangan pada point (1), pasukan perdamaian PBB segara akan dikirimkan oleh pemerintah Amerika Serikat ke Papua Barat untuk menekan kebijakan Jakarta KEMBALIKAN KEDAULATAN RAKYAT & BANGSA PAPUA BARAT tanpa syarat dalam tahun 2012 ini juga.
3. Orang Asli Papua menolak Pelaksanaan Referendum di Papua. Karena Jakarta akan bayar swara Orang Asli Papua dengan menggunakan uang OTSUS dan UP4B agar Orang Asli Papua Barat mempertahankan NKRI jilid II di tanah Papua.
4. Orang Asli Papua Barat di Paniai menolak tawaran UP4B dari Jakarta. Kami sedang menghadapi suasana perang. Kami minta perlindungan dari pasukan perdamaian PBB. Kami tidak membutuhkan pembangunan untuk perbaikan kesejahteraan rakyat.
5. Orang Asli Papua Barat di Paniai meminta pihak masyarakat Internal menekan pemerintah Jakarta tidak diijinkan melakukan pemboman terhadap Markas Besar TPN-OPM Dev II Makodam Pembela Keadilan IV Paniai di Eduda.
6. United Clans of West Papua meminta kedua belah pihak baik TNI/POLRI maupun TPN-OPM) di Paniai harus menghormati hak hidup aman dan hak menyampaikan kebebasan untuk mendapatkan perlindungan yang layak dari semua pihak.
7. Kami minta bantuan advokasi dari semua pihak untuk menekan kebijakan Jakarta tentang pengkondisiannya untuk melaksanakan Operasi Militer terhadap keberadaan TPN-OPM untuk menghabiskan Orang Asli Papua.

8. Pihak DPRD dan PEMDA Paniai diminta segera akan mendesak Jakarta menarik pasukan gabungan TNI/POLRI pada kesempatan pertama.

foto ini saat penyerangan terhadap markas Tpn-Opm Devisi II  Makodam IV Paniai tni-polri menggunakan pesawat  helycopter ini ..




foto kekerasan Militer terhadap rakyat papua barat sejak 1961-2011

FOTO-FOTO KORBAN KEKERASAN MILITER DI PAPUA TERHADAP RAKYAT SIPIL


























Translate

NEWS ALL

POLITIK

More on this category »

EKONOMI

More on this category »

KESEHATAN

More on this category »

PAPUA

More on this category »

OPINI

More on this category »

ARTIKEL

More on this category »

RELIGION

More on this category »

EDUKASI

More on this category »

INTERNASIONAL

More on this category »

BUDAYA

More on this category »

SPIRITE OF FREEDOM

How to make a gif
 
Support : | |
Copyright © 2009. umaginews - All Rights Reserved
Template Modify by Inspired
Proudly powered by umagipapua